Suatu shubuh, seorang wanita
membangunkan putranya yang duduk di bangku sekolah dasar, “Nak, sholat dulu terus bantu Ibu ya”. Sang putra terbangun dan
melaksanakan sholat, kemudian membantu Ibu dan Ayahnya membungkus mi goreng
untuk dijajakan ke sekolah melalui bibinya yang menjadi pegawai di sekolah
tersebut. Setiap pagi sebelum berangkat ke sekolah, sang putra mengantar
bungkusan mi goreng itu ke rumah bibinya, sorenya ia mengambil sisa dan uang
hasil penjualannya. Ketika mi gorengnya habis, ia akan lapor ke Ibunya dengan
gembira, namun saat mi gorengnya masih tersisa banyak terkadang ia takut pulang
karena sedih dan kasihan dengan Ibunya yang sudah menyiapkan makanan tersebut
sedari dini hari, demi mendapatkan tambahan penghasilan untuk mencukupi
kebutuhan harian mereka.
Beberapa Tahun Kemudian……
“Bu, teman-temanku ikut bimbingan persiapan UN di sana, bolehkah aku
ikut bimbingan juga?”_seorang anak yang duduk di bangku kelas tiga SMA
bertanya pada ibunya. Sang ibu tersenyum mendengar keinginan putranya, ia tidak
segera menjawab pertanyaan saat itu juga. Ia berpikir sebenarnya untuk
kebutuhan bulanan saja penghasilannya sudah hampir tak tersisa, namun ia tidak
ingin mengecewakan keinginan putranya, baginya pendidikan sang putra adalah hal
yang harus diutamakan. Keesokan harinya sang anak dipanggil, “Nak, Ibu mengijinkanmu ikut bimbingan, tapi
uang yang ada hanya cukup untuk biaya bimbingannya saja, kalau kamu benar-benar
ingin ikut bimbingannya, segeralah mendaftar”. “Baik bu” jawab putranya. Alhasil sang putra ikut bimbingan
tersebut. Tiap hari ia berjalan kaki dari rumahnya ke tempat bimbingan di
daerah simpang lima yang berjarak kurang lebih satu setengah kilometer. Ia tak
peduli dengan teman-temannya yang menggunakan motor atau di antar mobil oleh
orang tuanya, baginya bisa ikut bimbingan saja ia sudah beruntung. Ia pun
konsisten mengikuti bimbingan sampai akhir agar tidak mengecewakan Ibunya.
*Beberapa Tahun Kemudian……*
“Silahkan kalian berdiri, dan menghadaplah ke arah dimana orangtua
kalian berada”, dekan salah satu universitas terbaik di negeri ini meminta
pada semua wisudawan pada acara wisuda tersebut. Seorang pemuda berdiri dengan
tersenyum, dan menghadap ke salah satu sisi balairung, banyak kamera yang
menyorot mereka sehingga ia yakin ia terlihat oleh layar televisi yang
terpasang di luar balairung. “Berilah
tepuk tangan pada orang tua kalian, karena merekalah kalian sekarang berada
disini, lulus dari universitas ini”, ujar sang dekan kemudian. Serempak
semua wisudawan bertepuk tangan ke arah yang berbeda-beda, suasana menjadi
riuh. Sepasang suami istri yang duduk di kursi pendamping di luar balairung,
menatap layar televisi yang terpasang di sana. Sang wanita, berkaca-kaca saat
melihat putranya bertepuk tangan sambil tersenyum. Putranya yang dulu ia
perjuangkan untuk terus mendapat pendidikan sekarang telah menyelesikan
sarjananya, dengan jalan yang mungkin tidak terbayangkan olehnya dari awal.
Sang anak diterima di perguruan tinggi kedinasan yang tidak memungut biaya
kuliah. Setelah lulus dari sana ia melanjutkan kuliah ke universitas ini dengan
gaji yang telah ia peroleh sebagai pegawai. Dan tentu saja karena doa dan usahanya
untuk keberhasilan sang putra.
Beberapa Tahun Kemudian……
“Mas, keren banget sih, tahun kemarin baru aja dapet penghargaan
pegawai terbaik, sekarang dapet beasiswa S2 ke luar negeri, gimana sih caranya
biar hebat gitu?” tanya seorang pegawai yunior pada pegawai senior di
kantor mereka. Yang ditanya tersenyum, dan menjawab, “Sebenarnya yang hebat itu bukan saya, tapi ibu saya”. “Saya yang sekarang adalah hasil didikan
beliau bertahun-tahun” lanjutnya. “Karena
itu muliakanlah orang tua kita, karena kita tidak akan pernah tahu seberapa
besar keajaiban yang Allah SWT persiapkan karena doa dan keridloan mereka untuk
kita.” Pegawai senior tersebut adalah putra dari wanita yang menjual mi goreng ke sekolah sembilan belas tahun
yang lalu.
*Pesan moral : Muliakanlah orang
tua kita, karena kita tidak akan pernah tahu seberapa besar keajaiban yang
Allah SWT persiapkan karena doa dan keridloan mereka untuk kita.*

