Ketekunan adalah suatu
hal yang ajaib. Ketekunan terkadang bisa mengalahkan bakat yang sangat besar.
Ketekunan seringkali mendatangkan kesempatan yang tidak didapat oleh orang lain
yang tidak memilikinya. Ketekunan seringkali jadi pembeda antara orang yang
berhasil dengan orang yang gagal._
Mana mungkin ke Washington DC
menggunakan bis Patas AC, Apalagi jurusannya Bekasi - BSD?. tiket pesawat ke
Arab Saudi aja mungkin masih lebih murah jika dibandingkan dengan tiket pesawat
ke jantung sang negara adidaya tersebut. Namun cerita di bawah ini adalah salah satu
contoh tentang keajaiban ketekunan.
Semuanya berawal dari
penawaran diklat bahasa inggris selama tiga bulan di kampus Jurangmangu,
Bintaro Sektor V Tangerang Selatan. Tanpa
pikir panjang tentu saja saya mengajukan diri dan diterima untuk mengikuti
diklat tersebut. Saya adalah tipe orang yang lemah dalam bahasa inggris, dari
jaman SMP sampai kuliah saya tidak pernah sukses dalam mata pelajaran satu ini.
Karena itu saya selalu berusaha memperbaiki _skill_ yang saya miliki dengan mengikuti semua kesempatan diklat
bahasa inggris.
Untuk menghemat pengeluaran,
saya menggunakan bis Agra Mas jurusan Bekasi - BSD (Bumi Serpong Damai), bus
dengan warna ikonik merah dan logo tulisan berwarna putih dengan volume penumpang
yang luar biasa. Jika beruntung, begitu sampai di bundaran komsen Jatiasih saya
akan langsung melihat bis ini sedang mangkal di jalan menuju pintu tol
Jatiasih, duduk di kursi dekat pintu dengan hembusan AC yang langsung membuat
ingin merilekskan sejenak badan ini (baca : tidur). Jika sedang tidak beruntung, boro-boro duduk
di kursi, bisa masuk ke dalam bis saja saya sudah harus bersyukur. Kadang saya harus jadi _anak nangkring_ di bagasi barang, yaitu _space_ di belakang 5-6 kursi di bagian paling belakang, karena diminta
sportifitas saya sebagai laki-laki atau anak muda oleh penumpang lain (walaupun
umur sudah kepala tiga juga sebenarnya ).
Tarif dari Jatiasih ke pintu
tol Veteran, lokasi dimana saya akan meneruskan rute saya dengan menggunakan
ojek pangkalan adalah sepuluh ribu rupiah. Jika saya menggunakan Gojek dari
rumah ke bundaran komsen - dilanjutkan dengan menggunakan bis - dan Ojek
pangkalan, total biaya yang saya keluarkan sekitar lima puluh ribu rupiah.
Masih lebih murah jika dengan menggunakan taksi yang harganya mencapai tiga kali
lipatnya. Mental Anda akan ditempa dua kali lipat saat anda tidak dapat tempat
duduk, dan jalanan di Jakarta sudah mulai macet, otomatis anda akan berada
dalam posisi berdiri lebih lama daripada biasanya. Dan saya bisa membayangkan
betapa kuatnya mental para penumpang lain yang mungkin saja telah
bertahun-tahun mengalami rutinitas seperti itu.
Bis ini juga mengangkut
berbagai macam semangat penumpangnya, mulai dari ibu-ibu pegawai yang harus
lintas propinsi tiap hari (Bekasi - BSD kan beda propinsi, hehe) demi menafkahi
keluarganya, sampai dengan anak-anak muda mahasiswa-mahasiswi yang membawa buku
kuliah mereka ke dalam bis untuk dibaca dengan posisi berdiri sekalipun. Saat sore hari juga suasana tak jauh beda.
Hanya saja mungkin raut wajah para penumpang yang tidak seceria di pagi hari
lebih dominan. Aroma kegigihan mereka bekerja keras di setiap aktivitas
masing-masing terkadang juga tercium oleh hidung saya.
Rutinitas di atas selalu saya
jalani selama empat bulan. Setiap Senin pagi setelah sholat Subuh , saat
matahari pun belum menampakkan sinarnya, saya berangkat dari rumah. Jumat malam saat kembali ke rumah, seringkali
saya sampai di rumah saat anak saya telah tidur, karena kemacetan pada hari
tersebut terjadi nyaris pada 80% trayek bis Agra Mas Bekasi - BSD. Tidak ada
lagi yang bisa saya perbuat untuk sampai pada tujuan saya kecuali dengan
ketekunan. Karena saya bukanlah seorang dengan bakat besar dalam bahasa
inggris. Saat sesi _reading_ misalnya,
saya harus membaca satu paragraf dalam suatu bacaan beberapa kali, ketika
teman-teman saya sudah mengerti inti dari paragraf tersebut dengan sekali baca.
Begitu juga dengan sesi speaking,
seringkali pengajar mengingatkan saya untuk mengeraskan volume suara karena
khawatir saat _real test_ suara tidak
terdengar, keadaan yang sebenarnya disebabkan karena saya kurang _confidence_ dengan kemampuan saya. Tentu
saja saya menambah porsi latihan dan belajar lebih banyak dari teman-teman saya
untuk meminimalisir kelemahan saya tersebut.
Dan pada akhirnya, di akhir
masa seleksi saya termasuk dalam peserta yang melewati _passing grade_ untuk disekolahkan ke luar negeri. Selanjutnya saya
mendapatkan jatah ke Amerika Serikat, dan diterima di beberapa universitas. Dan
pilihan saya jatuh pada salah satu universitas yang berlokasi di Washington DC.
Kadang kita tidak pernah menyangka apa yang akan dihasilkan oleh hal-hal kecil
yang kita lakukan dengan rutin. Semua faktor yang ikut mendukung saya untuk
menekuni diklat empat bulan tersebut tentu saja ikut berjasa, termasuk bis
warna merah jurusan Bekasi - BSD yang selalu saya tunggu di pintu tol setiap
awal dan akhir pekan. Karena itu, lakukanlah semua hal yang Anda inginkan
dengan ketekunan, niscaya hasilnya tidak akan mengkhianati proses yang ada
dibaliknya.







